Illiza: FASI Bukan Sekadar Lomba, tapi Ikhtiar Menjaga Generasi Qurani di Era Digital

Banda Aceh – Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) Kota Banda Aceh 2026 resmi dibuka di Masjid Jamik Lueng Bata, Senin, 7 September 2026, menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan generasi Qurani yang berakhlak mulia, kreatif, percaya diri, dan mampu berkolaborasi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Pembukaan FASI diawali dengan defile kontingen TPA dan TPQ dari berbagai penjuru Kota Banda Aceh menuju panggung utama. Parade tersebut menjadi gambaran semangat anak-anak dalam mengikuti ajang pembinaan dan syiar Islam yang berlangsung hingga 9 September 2026.

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal hadir membuka kegiatan tersebut bersama Anggota DPRK Banda Aceh sekaligus Ketua Fraksi PAN, Sofyan Helmi, Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Jalaluddin, para asisten, kepala OPD, camat, unsur Forkopimcam, jajaran BKPRMI, para direktur TPA/TPQ, orang tua santri, serta sejumlah tokoh dan mitra pendukung kegiatan.

Dalam sambutannya, Illiza menegaskan bahwa FASI tidak boleh dipandang semata-mata sebagai ajang perlombaan. Lebih dari itu, FASI harus menjadi ruang pendidikan yang mendekatkan anak-anak kepada Al-Qur’an, memperkuat kecintaan terhadap agama, sekaligus menanamkan akhlak mulia sejak usia dini.

“Festival ini tentu bukan sekadar persoalan perlombaan. Bagaimana ini menjadi ruang didik agar semakin dekat dengan Al-Qur’an, semakin mencintai agama, semakin kuat akhlaknya,” ujar Illiza.

Menurutnya, pembentukan karakter anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan media sosial. Karena itu, pendidikan agama dan keteladanan keluarga menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.

Illiza mengingatkan para orang tua agar tidak menyerahkan proses pembentukan karakter anak kepada lingkungan digital semata. Di tengah kemudahan anak mengakses berbagai konten melalui media sosial, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan anak tetap mengenal jati dirinya, mengenal Allah SWT, mencintai Al-Qur’an, dan tumbuh dengan akhlak yang baik.

“Orang yang baik belum tentu saleh. Orang yang saleh dan salehah sudah pasti baik,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan ayah dan ibu dalam mendidik anak sebagai amanah dari Allah SWT. Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama yang menentukan arah tumbuh kembang seorang anak.

Illiza kemudian mengingatkan bahwa pola pendidikan dan pengasuhan juga perlu disesuaikan dengan tahapan usia. Pada usia 0–7 tahun, anak membutuhkan kedekatan, kasih sayang, pelukan, dan perhatian yang kuat. Memasuki usia berikutnya, anak mulai diarahkan dengan aturan dan kedisiplinan, sementara ketika beranjak remaja, hubungan orang tua dan anak perlu dibangun semakin terbuka agar orang tua dapat menjadi tempat anak bertumbuh sekaligus berdiskusi.

“Kalau kita mau menjadikan anak Indonesia ini mencapai Indonesia Emas 2045, jika anak-anak kita jauh dengan Al-Qur’an, jauh dari pendidikan agama, bagaimana mereka bisa membangun karakter?” katanya.

Ia berharap FASI dapat kembali menjadi kegiatan yang memiliki gaung kuat di tengah masyarakat dan terus dikembangkan sebagai bagian dari pembinaan generasi muda Kota Banda Aceh.

“Insyaallah, FASI ke depan menjadi kegiatan yang akan diadakan di Kota Banda Aceh,” ujar Illiza.

Pembukaan FASI 2026 turut dirangkaikan dengan penyantunan anak yatim. Santunan diserahkan secara bersama oleh Wali Kota Illiza, Anggota DPRK Banda Aceh Sofyan Helmi, Sekda Kota Banda Aceh, serta perwakilan BPRS Hikmah Wakilah selaku salah satu mitra pendukung kegiatan.

Sejumlah TPA/TPQ yang turut ambil bagian di antaranya TPA Baitussalam Ateuk Pahlawan, TPA Assa’adah, TPA Al Badar, TPQ An Nahla Panteriek Lueng Bata, TPQ Terpadu Ruhul Jabik, serta TPQ Al Irsyad Masjid Jamik Lueng Bata.

FASI Kota Banda Aceh 2026 berlangsung pada 7 – 9 September 2026 di Masjid Jamik Lueng Bata, dengan melibatkan TPA dan TPQ dari berbagai wilayah di Kota Banda Aceh.

Melalui penyelenggaraan FASI, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap semangat mencintai Al-Qur’an tidak berhenti di atas panggung perlombaan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan, karakter, dan akhlak yang melekat dalam kehidupan anak-anak hingga mereka dewasa. (Riz)


SHARE: