Illiza Resmikan Model Sarana WASH di SMPN 9
Unicef Dorong Replikasi di Sekolah Lain di Banda Aceh
Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal meresmikan model sarana air, sanitasi, dan higiene/Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) di SMP Negeri 9 Banda Aceh, Rabu 15 Juli 2026.
Fasilitas ini dibangun melalui kolaborasi Unicef Indonesia, Yayasan Aceh Hijau, PT Wings Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Pemerintah Kota Banda Aceh. Sarana WASH tersebut dirancang aman, inklusif, dan berketahanan iklim.
Dalam sambutannya, Illiza mengatakan pembangunan sarana WASH bukan sekadar menghadirkan fasilitas fisik, tetapi juga membangun budaya hidup bersih dan sehat. “Kita sedang membangun generasi masa depan Banda Aceh yang sehat, cerdas, berkarakter, serta peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Menurutnya, peserta didik yang belajar di lingkungan sekolah bersih dengan akses air minum aman, toilet layak, dan fasilitas cuci tangan memadai akan lebih nyaman mengikuti proses belajar mengajar.

Pada kesempatan itu, Illiza juga mengajak siswa-siswi mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membiasakan membawa botol minum dari rumah serta menggunakan air secara bijaksana.
Melalui model sarana WASH ini, Pemko Banda Aceh berharap semakin banyak sekolah yang memiliki fasilitas air, sanitasi, dan higiene sesuai standar kesehatan untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan ramah anak.
WASH Specialist Unicef Indonesia, Muhammad Zainal, mengatakan SMP Negeri 9 merupakan satu-satunya sekolah di Kota Banda Aceh yang menerima bantuan model sarana WASH dari Unicef tersebut.
“Kami tidak mendukung pembangunan dalam jumlah besar, tetapi menghadirkan model yang dapat menjadi contoh dan dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah daerah,” ujarnya sembari berharap model ini dapat direplikasi oleh Pemko Banda Aceh di sekolah-sekolah lain.

Sementara Kepala SMP Negeri 9 Banda Aceh, Nurdin, menyampaikan pihaknya menerima dua fasilitas utama, yaitu pembangunan toilet layak dan ramah anak serta penyediaan fasilitas air minum siap saji berbasis teknologi Reverse Osmosis atau RO.
Ia menilai fasilitas tersebut sangat bermanfaat bagi peserta didik dan tenaga pendidik. “Siswa kami kini cukup membawa botol minum dari rumah untuk memanfaatkan fasilitas air minum di sekolah,” ujarnya.
Hal ini juga membantu mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai dan pengeluaran orang tua. Dan untuk keberlanjutan, pihak sekolah telah menyiapkan mekanisme pemeliharaan agar sarana yang dibangun dapat terus dimanfaatkan jangka panjang. (*)
